Hari Yang Menyenangkan

Ditulis oleh M.Syarief Hidayatullah, 25 Desember 2022

HARI YANG MENYENANGKAN

 

Bagi sebagian orang, senin mungkin adalah hari yang paling menyebalkan. Sehari sebelumnya yang diisi dengan bersantai dan refreshing, namun sekarang di isi dengan kesibukan-kesibukan yang sangat melelahkan. Yang bekerja sibuk mempersiapkan diri untuk pergi ke tempat kerjanya, yang pelajar juga sibuk mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah tepat waktu agar tidak terlambat upacara pagi, yang pengangguran juga tak kalah sibuk, sibuk mempersiapkan tempat untuk rebahan.

Dari sekian banyak orang-orang yang mengatakan bahwa senin adalah hari yang menyebalkan, aku justru berpendapat bahwa hari senin adalah hari yang paling menyenangkan. Karena di hari senin aku bisa bertemu lagi dengan teman-teman, dan yang paling penting bisa bertemu dengan.....

“Ih Reza, kamu tuh ya kebiasaan banget setiap upacara selalu masuk UKS dengan alasan sakit inilah itulah. Kayak gak niat sekolah aja.” Omel Rani saat aku baru merebahkan di kasur.

“Bukan gitu Ran, aku tuh emang entah kenapa kalo lagi upacara tuh suka pusing. Mungkin aja aku alergi matahari pagi.” Elak ku, ‘Padahal sih cuman karena pengen ketemu kamu  sih Ran.

____________________________________________________________

Rani. Anak kelas sebelas ipa 1, sebelahan kelas denganku, kelas sebelas ipa 2. Rani adalah alasanku selalu bersemangat di hari senin yang menyebalkan ini, dan Rani juga yang menjadi alasanku selalu masuk UKS ketika upacara pagi.

____________________________________________________________

“ih kamu ini ada-ada aja alasannya, waktu olahraga tempo hari aja aku ngeliat kamu main bola panas-panasan biasa aja tuh, gak ada sakit-sakitnya.” Balas Rani.

Aku hanya cengengesan mendengarnya, padahal didalam hati aku senang bukan main. ‘Wah ternyata Rani memperhatikan aku juga ya, apa jangan-jangan dia juga denganku ya?!’ pikirku dalam hati sambil senyum-senyum nggak jelas.

“Ran.” Panggilku.

“Hmm.”

“Kamu jagain UKS tiap minggu gini digaji gak sih?.” Tanyaku.

Rani yang sedari tadi sibuk menumbuk obat pun sontak menghentikan kegiatannya, lalu menggelengkan kepala. Kemudian lanjut menumbuk obat.

“Tapi kok kamu mau sih disuruh jagain UKS tiap minggu gini?.” Tanyaku lagi.

“ namanya juga hobi Za, dari dulu aku emang suka ngurusin orang sakit. Jadi ketika guru nyuruh aku buat jaga UKS, aku mau-mau aja.” Jawabnya.

‘Malaikat. Benar-benar malaikat, fix harus kujadikan pacar!.’ Ucapku dalam hati.

Kemudian tidak ada lagi percakapan diantara kami. Rani sibuk melakukan tugasnya, dan aku sibuk memperhatikan Rani.

Kringgg Kringgg Kringgg

“Aku mau masuk kelas, kamu masih mau disini atau ikut masuk ke kelas?.”Tanya Rani.

“Aku ikut masuk ke kelas aja Ran.” Jawabku. ‘Ngapain juga lama-lama disini, nggak ada kamunya juga.’ Ucapku dalam hati.

Aku keluar lebih dulu karena Rani masih harus merapikan UKS. Ketika keluar, ada seseorang berdiri di depan pintu UKS.

“Loh, Andre, ngapain kamu kesini?.” Tanyaku. Meski tidak sekelas, aku mengenalnya karena Andre adalah orang yang terkenal di sekolah karena ketampanannya.

“Nggak ada apa-apa, Cuma lagi nungguin orang aja. Ngomong-ngomong ngapain kamu disini?, sakit lagi pas upacara?.” Tanya Andre balik dengan ekspresi muka yang menurutku agak aneh.

“Yah begitulah.“ Jawabku sambil nyengir nggak jelas.

“Za kenapa belum masuk ke kelas jug--.....Loh sayang, udah lama nunggu?.” Rani yang baru keluar dari uks terkejut melihat Andre telah menunggunya.

“Nggak lama kok sayang, ini juga tadi ngobrol-ngobrol dengan si Rian ini.” Jawab Andre.

“Reza.”

“Eh iya Reza, sorry salah sebut tadi hehehe.” Ujar Andre sambil tertawa canggung.

“Tu-tunggu dulu, ka-kalian pacaran?.” Tanyaku agak tidak percaya.

“Iya hehe, kami sebenarnya pacaran udah dari kelas sepuluh.” Jawab Rani sembari tersenyum lebar.

Tiba-tiba terdengar suara retakan. Bukan, itu bukan suara retakan hatiku, tolong!! aku tidak selebay itu!. Itu adalah bunyi pensil yang secara tidak sengaja kupatahkan, mungkin karena  aku memegangnya terlalu kuat. Suasana tiba-tiba kembali sunyi, Andre kembali bersuara.

“Za, kami duluan ke kelas ya, gurunya udah masuk tuh.” Ujar Andre sambil menggamit tangan Rani, Rani menoleh ke arahku sambil tersenyum lembut, lalu mereka mulai berjalan ke kelas.

Saat mereka berjalan, aku hanya bisa mematung ditempat. Aku merasa apa yang telah kulakukan selama ini sia-sia. Berangkat sekolah pagi-pagi, hal yang sebelumnya tak pernah kulakukan. Naik angkot yang paling jauh dari rumahku supaya bisa satu angkot denganmu. Dan juga rela tidak sarapan pas hari senin pagi biar ada alasan buat masuk UKS.

“Hah, ternyata emang bener apa yang orang katakan, Senin emang hari yang menyebalkan.” monologku  saat aku mulai berjalan, berjalan ke kantin belakang sekolah. ‘mending bolos aja ah, secangkir kopi mungkin bisa ngobatin luka hati.’

Komentar (0)
Belum ada komentar
Masukan Komentar Anda :
Senja Bersama Ayah
Senja Bersama Ayah

Aku duduk termenung di sebuah pondok kecil buatan ayahku. Pondok yang letaknya menghadap matahari terbenam, sambil menatap hamparan sawah yang meng[..]

Ditulis oleh Rindah

Tak Ku Sangka Dia
Tak Ku Sangka Dia

[..]

Ditulis oleh Ayu Kirani Azzahra

Menghargai Arti Pertemuan
Menghargai Arti Pertemuan

Hai, Bumi ... Mungkin kau sudah terlalu lelah dengan semua ini Terlalu lelah untuk menghadapi tingkah egois manusia Makin t[..]

Ditulis oleh Putri Nur Hidayah Komaria

Filosofi Kemerdekaan
Filosofi Kemerdekaan

[..]

Ditulis oleh Ahmad Frizar Baharrizky

Percakapan di Kedai Kopi
Percakapan di Kedai Kopi

[..]

Ditulis oleh gap

Venus: Goddess of Love and Beauty
Venus: Goddess of Love and Beauty

[..]

Ditulis oleh kts

Sajak Untuk Bumi
Sajak Untuk Bumi

Bumi sudah merenta Waktu telah mengais puing raganya Raga yang mulai gemetar     Aku menghadap ke[..]

Ditulis oleh arg

Listen Before I Go
Listen Before I Go

  [..]

Ditulis oleh kts

Mentari Rembulan
Mentari Rembulan

Sabarlah Ibu, [..]

Ditulis oleh Dikanio Hanif Purnomo